Halaman

Sabtu, 16 Oktober 2010

Di riak riak muram hatiku

Meredam riuh dalam rasa membuat kelu pahit dan gamang
kau bertanya,hendak kunamai apa hening yang geming ini
Di riak riak muram hati ku beri nama..
Desiran pada nadi membuncah pecah mengusik
Bisu hati yang tak pernah letih meski kian gelap
Ku garami luka ini kunikmati nyerinya
Kematian tak lagi ku takuti selepas ini
Akulah mawar hitam di bawah gerhana
Langitku porak poranda sejak kau tenggelam
Sajak perih kutuliskan malam ini tentang dahan dahan yang patah dan dedaunan yang gugur bersama air mata


(Inspired ; my sis @[100000380288540:2048:Lya Gobel] tentang rasanya)

Tidak ada komentar: