Mungkin kau sungguh mencintaiku. Mungkin aku juga
Banyak hal yang menjadi rahasia
Dalam sunyi malam
Aku butuh sendiri
Jangan merinduku karena ku benci diriku
Cintaku penuh racun
Dan kau telah membuang penawarnya dari hatimu
Dengan itu kau dapat melupakanku Dan berhenti merindukanku
Dengan itu ku dapat melupakan tentang cinta yang telah padam Dan cinta yang kupaksa karam
Aku yang galau sesat di penghujung jalan
menutup Luka hati semudah ku menutup cinta ini
Inilah terakhir kali kau menatapku Kuharap esok takkan wujud
Jumat, 29 Oktober 2010
Selasa, 26 Oktober 2010
Sungguh
Sungguh Duhai Pemilik Arsy
Engkaulah Persinggahan terakhir
Di tepian hati ini menangisi seluruh duka yang menumpah bumi
Seakan membara kupijak tanah meski air mencurah dari arsy-Mu
Kami yang tersesat di belantara nista dan kesenangan
Mencoba bebaskan diri tentang-Mu
Buat Mu Murka
Akankah semua manusia terhempas dari peredaran
Kami yang tak sadar terlalu oleng oleh gelombang nista durjana
Di titik kesakitan di puncak kesadaran memohon ampunan-Mu
Sebelum binasa menembus asa
Kami yang durhaka ingin menyebut Nama-Mu berharap terampuni
Memohon berharap cinta-Mu
Meski terlalu lama memalingkan muka dari nama-Mu
Sungguh ingin menjeritkan nama-Mu
Engkaulah Persinggahan terakhir
Di tepian hati ini menangisi seluruh duka yang menumpah bumi
Seakan membara kupijak tanah meski air mencurah dari arsy-Mu
Kami yang tersesat di belantara nista dan kesenangan
Mencoba bebaskan diri tentang-Mu
Buat Mu Murka
Akankah semua manusia terhempas dari peredaran
Kami yang tak sadar terlalu oleng oleh gelombang nista durjana
Di titik kesakitan di puncak kesadaran memohon ampunan-Mu
Sebelum binasa menembus asa
Kami yang durhaka ingin menyebut Nama-Mu berharap terampuni
Memohon berharap cinta-Mu
Meski terlalu lama memalingkan muka dari nama-Mu
Sungguh ingin menjeritkan nama-Mu
Jumat, 22 Oktober 2010
Derita , darah dan airmata
Menulis tentang derita,darah dan air mata
Pedih menghujam kisah kasih anak manusia
Berucap dalam diri demikian lirih
Merenung sejenak tuk berdiam
Di balik waktu semua begitu kelabu
Manusia tak dapat tangguhkan derita
Tampan menghembus nyawa kelangit
Kulihat keji tanpa belas kasih manusia menghabisi..
Cantik indah rupa cahaya cinta mu tlah larut berpendar kini kau amnesia
Akhir cinta yang penuh tangis perih
ku tak mengerti apa yang terjadi mendengarnya buat mengigil diri
Entah seperti apa tangis yang memecah menyeru biru menghambur di rasa dua keluarga
Mungkin tentang kisah yang teramat dalam teramat biru
Ini bukan puisi,mungkin..
Mungkin kisah kasih pedih yang terjadi
Mungkin kisah kasih yang tak tereja
ini nyata
Pedih menghujam kisah kasih anak manusia
Berucap dalam diri demikian lirih
Merenung sejenak tuk berdiam
Di balik waktu semua begitu kelabu
Manusia tak dapat tangguhkan derita
Tampan menghembus nyawa kelangit
Kulihat keji tanpa belas kasih manusia menghabisi..
Cantik indah rupa cahaya cinta mu tlah larut berpendar kini kau amnesia
Akhir cinta yang penuh tangis perih
ku tak mengerti apa yang terjadi mendengarnya buat mengigil diri
Entah seperti apa tangis yang memecah menyeru biru menghambur di rasa dua keluarga
Mungkin tentang kisah yang teramat dalam teramat biru
Ini bukan puisi,mungkin..
Mungkin kisah kasih pedih yang terjadi
Mungkin kisah kasih yang tak tereja
ini nyata
Sabtu, 16 Oktober 2010
Di riak riak muram hatiku
Meredam riuh dalam rasa membuat kelu pahit dan gamang
kau bertanya,hendak kunamai apa hening yang geming ini
Di riak riak muram hati ku beri nama..
Desiran pada nadi membuncah pecah mengusik
Bisu hati yang tak pernah letih meski kian gelap
Ku garami luka ini kunikmati nyerinya
Kematian tak lagi ku takuti selepas ini
Akulah mawar hitam di bawah gerhana
Langitku porak poranda sejak kau tenggelam
Sajak perih kutuliskan malam ini tentang dahan dahan yang patah dan dedaunan yang gugur bersama air mata
(Inspired ; my sis @[100000380288540:2048:Lya Gobel] tentang rasanya)
kau bertanya,hendak kunamai apa hening yang geming ini
Di riak riak muram hati ku beri nama..
Desiran pada nadi membuncah pecah mengusik
Bisu hati yang tak pernah letih meski kian gelap
Ku garami luka ini kunikmati nyerinya
Kematian tak lagi ku takuti selepas ini
Akulah mawar hitam di bawah gerhana
Langitku porak poranda sejak kau tenggelam
Sajak perih kutuliskan malam ini tentang dahan dahan yang patah dan dedaunan yang gugur bersama air mata
(Inspired ; my sis @[100000380288540:2048:Lya Gobel] tentang rasanya)
Jumat, 15 Oktober 2010
nama mu
sebagai bayang kenang diriku di antara asa dan masa di ujung kelabu
tak jelas dan usang
tentang nama mu jauh di ufuk sana takkan terlupa
Ada doa tersirat
saat nama mu berkelebat di antara spasi kesunyian dan batas kesadaran
biar kulihat diri mu menjauh menjalani hari
bersenandung ria
tak jelas dan usang
tentang nama mu jauh di ufuk sana takkan terlupa
Ada doa tersirat
saat nama mu berkelebat di antara spasi kesunyian dan batas kesadaran
biar kulihat diri mu menjauh menjalani hari
bersenandung ria
Kamis, 14 Oktober 2010
walau sesaat
jatuh menyerah tanpa syarat. oleh senyummu walau sesaat..
tersudut dalam kerut hati melekat rapat
rekatmu menjerat darah ku yang pekat
tak mengenal tenggat
tak kuat sudah mari lunasi rindu yang terpahat meranggas
sebelum berkarat
akhirnya kita tersesat karena candu rindu berat
biarlah tak abadi asal kasih tak akan mati
tersudut dalam kerut hati melekat rapat
rekatmu menjerat darah ku yang pekat
tak mengenal tenggat
tak kuat sudah mari lunasi rindu yang terpahat meranggas
sebelum berkarat
akhirnya kita tersesat karena candu rindu berat
biarlah tak abadi asal kasih tak akan mati
Rabu, 13 Oktober 2010
dalam
Kenangan berkarat sarati kepala..
berat,sekarat
menyayat..
Tak perlu menyentuh untuk torehkan luka
Untaian kata mengoyak ku dalam
Langit kelam udara dingin merasuki malam nikmati sendiri melesap dalam waktu tenggelam dalam rasa
kepedihan mengingatkan akan kehidupan
berat,sekarat
menyayat..
Tak perlu menyentuh untuk torehkan luka
Untaian kata mengoyak ku dalam
Langit kelam udara dingin merasuki malam nikmati sendiri melesap dalam waktu tenggelam dalam rasa
kepedihan mengingatkan akan kehidupan
Sabtu, 02 Oktober 2010
Tentang mu,itu siksa
Berdesir darah mengalir
Berdiam abadi hatiku padamkan bara
Sembunyi dalam renung malam yang kelam buram redam
Tak sudi menjangkarkan hati
Kusauh jauh
Biar ku karam dalam rasa maha dalam
Kelak sayapku pulih ku melesat
Membelah kelam
Camkan lah..
Pembalasan slalu kejam
Kukembalikan semua sakit ini
Tiada kata paling tajam disini melainkan katamu
Aku terluka setiap saat
Nyeri di hati menusuk setiap detik
Berdiam abadi hatiku padamkan bara
Sembunyi dalam renung malam yang kelam buram redam
Tak sudi menjangkarkan hati
Kusauh jauh
Biar ku karam dalam rasa maha dalam
Kelak sayapku pulih ku melesat
Membelah kelam
Camkan lah..
Pembalasan slalu kejam
Kukembalikan semua sakit ini
Tiada kata paling tajam disini melainkan katamu
Aku terluka setiap saat
Nyeri di hati menusuk setiap detik
Langganan:
Postingan (Atom)